Beberapa tahun yang lalu tepatnya saat saya mengikuti acara PMB sebuah PMKK (Persekutuan Mahasiswa Kristen Katholik), seorang kakak tingkat bercerita tentang perkuliahannya. Sampailah dia bercerita tentang seorang pengrajin perak. Dimana terdapat seorang yang pergi
ke salah seorang pengrajin perak yang ada di suatu daerah dan meminta pengrajin perak untuk memberitahukan tentang bagaimana proses memurnikan perak.
Setelah mendapatkan penjelasan, orang tersebut bertanya kepada si pengrajin tersebut, "Tetapi Pak, apakah Anda terus duduk berjaga ketika proses pemurnian perak itu berlangsung?" "Oh, ya tentu!" jawab si pengrajin, "Saya harus duduk dengan mata yang terbuka dan memperhatikan setiap proses pemurnian tersebut, jika sedikit saja lalai, maka perak tersebut akan rusak."
Sebelum orang tersebut pergi, dia bertanya kepada si pengrajin satu pertanyaan terakhir, "Kapankan Anda tahu ketika proses pemurnian tersebut telah selesai?"
"Kapan? Itu sangat mudah," jawab si pengrajin, "Ketika saya dapat melihat wajah saya sendiri dalam perak tersebut maka proses pemurnian telah selesai"
Sebuah ilustrasi sederhana yang membuat saya tercengang, dan tanpa saya sadari air mata telah menetes. Memang terdapat satu/dua hal yang tidak bisa kita ceritakan ke sembarangan orang, namun satu hal, Tuhan terus mengawas-awasi dan menjaga di setiap kehidupan kita. Hingga sampai saat Dia berkata, "Aku bangga karena melihat diriKu dalam engkau, anakKu."
Suatu gambaran yang seharusnya membuat kita tetap bertahan sampai akhir, bukan? Dia yang mengenal kita lebih daripada kita mengenal diri kita adalah Tuhan yang menghendaki kita menjadi "surat-surat terbuka"Nya untuk dunia ini. Lewat tuntunan kasihNya, kita dapat menjadi pribadi yang memberikan kenyamanan bagi sekeliling kita. Biar lewat tingkahlaku, ucapan bahkan segala perbuatan kita, dunia dapat tahu bahwa Bapa mengasihi mereka (yang terhilang). Tuhan Memberkati.
Read More..

Setelah mendapatkan penjelasan, orang tersebut bertanya kepada si pengrajin tersebut, "Tetapi Pak, apakah Anda terus duduk berjaga ketika proses pemurnian perak itu berlangsung?" "Oh, ya tentu!" jawab si pengrajin, "Saya harus duduk dengan mata yang terbuka dan memperhatikan setiap proses pemurnian tersebut, jika sedikit saja lalai, maka perak tersebut akan rusak."
Sebelum orang tersebut pergi, dia bertanya kepada si pengrajin satu pertanyaan terakhir, "Kapankan Anda tahu ketika proses pemurnian tersebut telah selesai?"
"Kapan? Itu sangat mudah," jawab si pengrajin, "Ketika saya dapat melihat wajah saya sendiri dalam perak tersebut maka proses pemurnian telah selesai"
Sebuah ilustrasi sederhana yang membuat saya tercengang, dan tanpa saya sadari air mata telah menetes. Memang terdapat satu/dua hal yang tidak bisa kita ceritakan ke sembarangan orang, namun satu hal, Tuhan terus mengawas-awasi dan menjaga di setiap kehidupan kita. Hingga sampai saat Dia berkata, "Aku bangga karena melihat diriKu dalam engkau, anakKu."
Suatu gambaran yang seharusnya membuat kita tetap bertahan sampai akhir, bukan? Dia yang mengenal kita lebih daripada kita mengenal diri kita adalah Tuhan yang menghendaki kita menjadi "surat-surat terbuka"Nya untuk dunia ini. Lewat tuntunan kasihNya, kita dapat menjadi pribadi yang memberikan kenyamanan bagi sekeliling kita. Biar lewat tingkahlaku, ucapan bahkan segala perbuatan kita, dunia dapat tahu bahwa Bapa mengasihi mereka (yang terhilang). Tuhan Memberkati.